Kisah Masuk Islamnya Theresa Carter

Theresa-carter
Nama saya Theresa dan saya memeluk Islam sekitar 10 tahun yang lalu, Alhamdullilah. Saya menganggap diri saya “baru masuk” Islam karena dalam beberapa tahun terakhir ini saya baru benar-benar memahami agama, saya telah menemukan arti sebenarnya dari kedamaian dan kepuasan menjadi seorang wanita Muslim, Alhamdulillah.

Aku mengenal Islam di tahun kedua kuliah. Saat itu ada laki-laki yang sangat berbakat dari Lebanon di kelas seni. Apapun yang dia gambar selalu indah dan terlihat keluar begitu saja dari dalam dirinya. Karena aku sangat menyukai seni dan keindahan yang dihadirkannya, laki-laki ini berhasil membuatku penasaran.

Saat itu aku adalah seorang Katolik yang taat. Hingga setahun kemudian, aku baru tahu kalau laki-laki yang kukagumi itu seorang Muslim. Tapi latar belakang agama yang berbeda tak menghalangi kami untuk menjalin pertemanan. Bahkan diperkenalkannya aku kepada keluarganya. Menurutnya, aku adalah teman perempuan pertama yang dibawanya ke rumah. Semakin aku paham Islam, ternyata hubungan laki-laki dan perempuan itu sebetulnya tidak boleh saling ‘berteman’ seperti ini apalagi sampai pacaran. Ini betul-betul hal baru bagiku.

Mengenal Islam dan Cara Sholat

Dari laki-laki ini juga aku mengenal Islam lebih dalam. Awalnya saya penasaran, kenapa dia tak mau pergi bersama teman-teman saat matahari terbenam atau menjelang malam. Ternyata dia harus pergi bersama teman-teman untuk nonton bioskop setelah waktu sholat selesai.

Aku mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang dia dan keluarganya biasa lakukan. Saya selalu menjadi orang yang berpikiran terbuka. Ras dan budaya selalu menjadi bagian dari pendidikan sekolah saya, sehingga saya tidak mengalami masalah dalam mempelajari hal-hal baru. Dia benar-benar peduli kepada saya dan dia mulai menjelaskan Islam kepada saya.

Dia bahkan merekam aktivitasnya ketika salat dan diberikannya kepadaku untuk kutirukan di rumah. Seiring dengan mengajariku Islam, pemahaman dia tentang Islam sendiri juga makin bertambah sehingga dia sendiri juga makin relijius. Aku pun mengambil hijab, baju longgar, video-video, dan buku tentang tata cara sholat –baik yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris maupun yang transliterasi bahasa Arab– untuk mencoba mengerjakan sholat sendiri.

Ketika aku mencoba melafalkan bacaan sholat dalam bahasa Arab, tiba-tiba saja muncul gelombang damai dalam hatiku yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti alunan ombak yang tenang di tengah samudera. Dan ketika aku mulai mendirikan sholat, terasa seperti ada gula di dalam tubuhku. Terasa manis sekali untuk dirasakan. Mungkin penjelasan ini terasa aneh. Tapi saya pikir ini karena saya mengerjakannya demi mengenal Allah.

Berhijab

Pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang gadis muslim yang luar biasa dan cantik dengan hijabnya. Dia bernama Esraa. Pertama kali aku mencoba berhijab, aku merasa sangat malu dan tidak nyaman. Orang-orang yang telah mengenalku sepanjang hidupku membuatku merasa tidak aman. Suatu saat saya bertemu Esraa secara tak sengaja di tempat kerjanya (dia bekerja di salah satu tempat cuci-cetak foto). Kebetulan aku ke sana untuk mencuci-cetak fotoku. Saat itulah kulihat dia dengan hijabnya terlihat begitu cantik. Aku kagum dengan bagaimana dia memakai hijabnya secara sederhana.
Meskipun pemalu, aku adalah tipe yang mudah sekali memuji orang lain apalagi bila memang dia layak mendapat pujian. Aku pun memuji Esraa dengan hijabnya tersebut. Saya mengatakan kepada Esraa bahwa betapa aku menyukai gaya jilbabnya (tampak seperti desain bunga di samping). Suatu saat setelah itu, ketika Esraa memutuskan untuk hidup di Mesir, hijab itu diberikan Esraa padaku. Saya selalu mengingat hari itu. Hijab itulah yang membuatku menjadi diri sendiri. Kepribadianku yang sederhana seolah terpancar cemerlang melalui hijab tersebut.

Aku dan Esraa pun berteman baik. Ayah Esraa mengajariku berbuka puasa dengan kurma dan susu. Beberapa kali mereka mengundangku untuk berbuka puasa bersama di tahun pertama aku mengenal Esraa.

Pengalamanku berikutnya adalah ketika aku melakukan perjalanan ke Dearborn Michigan di saat imanku sedang kokoh. Di sana, aku merasakan yang namanya keheningan yang bersahaja. Itu karena teman yang kukunjungi dan tempatku menginap adalah seorang muslimah yang memilih hidup tanpa musik. Dia mengajakku ke kajian-kajian, memberiku kamar pribadi lengkap dengan sajadah dan buku-buku keislaman. Di saat-saat inilah, aku merasa hubunganku dengan Allah begitu sangat dekat.

Kisah saya terus berlanjut. Setiap hari saya belajar sesuatu yang baru. Saya sangat bangga telah menjadi gadis seperti sekarang ini berkat bimbingan Allah, Alhamdullilah. Setiap orang yang telah datang di sepanjang hidup saya, masing-masing telah membawa sedikit pelajaran, yang bisa saya petik pelajarannya setiap hari. Hari ini saya berdiri di sini dan saya melihat kembali semua peristiwa dan perjuangan sebelumnya dan saya menyadari segala sesuatu yang terjadi dalam urutan tertentu telah membawa saya menjadi seperti saya saat ini, Alhamdullilah.

Sebagai seorang muslimah berhijab, aku masih sangat mencintai hidup dekat dengan alam. Saat ini aku berprofesi sebagai fotografer untuk acara nikahan dan instruktur Pilates. Aku mengajar perempuan dari semua kalangan. Kesehatan, kesejahteraan dan kedamaian dalam diri sangat penting bagiku. Setiap hari aku bersyukur pada Allah untuk jalan Islam yang telah diberikannya padaku. Terima kasih Allah, untuk semua keindahan yang telah Engkau ciptakan dan mengizinkan kami untuk menikmatinya sepuasnya. Alhamdulillah.